Desahan Liar Ngentot Tante Janda Muda Angkuh

Kamis, Januari 4th, 2018 - Cerita Dewasa
itil education

Cerita Hot – Kumpulan cerita sex dewasa, cerita mesum, cerita terbaru paling hot dengan judul Desahan Liar Ngentot Tante Janda Muda Angkuh. Simak terus kelanjutan ceritanya karena disini akan selalu update bacaan seru lainnya yang bikin kamu horny.  Lihat juga cerita sex bergambar sebelumnya yang tak kalah seru untuk dibaca Kisah Nyata Seorang Guru Sekolah Jadi Pelacur.

Desahan Liar Ngentot Tante Janda Muda Angkuh

Desahan Liar Ngentot Tante Janda Muda Angkuh

Keadaan sepi sunyi mana Udara pagi ini terasa sejuk sekali, seakan menyambut baik datangnya hari Minggu ini. Secerah wajah tante Viona yang tengah becengkrama dengan bunga bunga ditaman. Meskipun nampak angkuh, namun kecantikan wajahnya tak dapat disembunyikan.

Aku baru saja selesai mandi dan berniat ngeteh diteras rumah sambil mnghirup udara pagi yang segar. Akan tetapi mataku mlihat tante Viona tengah asyik menikmati keindahan bunga ditaman depan rumah. Dengan gaya ala petani bunga Cibodas, tante Viona nampak serius memperhatikan tanaman itu. ” Pagi tan ” sapaku. ” Hmm… ” balasnya tanpa berpaling dari rumpunan bunga. ” Mau aku buatin minum nda tan!? ” tanyaku lagi setengah menawarkan jasa. ” Nda usah!! ” jawabnya juga seraya membelakangiku. Aku tak melihat tante Rita, Hendri ataupun Nita pagi ini. ” Ach, pada lari pagi kali? ” fikirku dalam hati.

Aku kembali memperhatikan tante Viona yang membelakangiku. Mulai dari betisnya yang putih mulus meskipun nampak kurus, pahanya yang lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun trbalut clana pendek, namun trlihat jelas lekukannya. ” Coba dia bisa aku tiduri sperti tante Rita ya? ” gumanku dalam hati. Belum habis lamunanku,tiba tiba kulihat tubuh tante Viona trhuyung lemah ingin trsungkur. Dengan cepat aku mloncat dan mmegangi tubuhnya yang nyaris trsungkur itu, mninggalkan sisa lamunan cabulku.

Kurangkul tubuhnya yang mulus dan trlihat lemas sekali. “Ga papa kan tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, seraya memapah tubuh tante Viona. “kepalaku terasa pusing Fad” jawab tante Viona lemah. “Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah. “Akhirnya aku bisa mrangkulmu Vone” ucapku dalam hati. Ada sjuta kebahagian dihatiku karna mampu mrangkul tubuh si angkuh trsebut.

Setelah berada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Viona disofa ruang tamu. Dengan mnarik nafas tante Viona duduk dan bersandar pada sandaran sofa. Setelah itu aku melangkah mninggalkannya sendiri. Tak berapa lama aku kembali dengan sgelas air hangat dan mnghampiri tante Viona yang tengah brsandar disandaran sofa. “Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku sambil mnyerahkan gelas brisi air hangat yang kubawa. Tante Viona pun mminum air hngt yang kuberikan. “Makasih ya Fad” ucapnya lemah sambil mletakan gelas dimeja yang ada didepannya.

“kepalanya masih pusing ga tan!?” tanyaku. Tante Viona hanya menganggukan kepalanya. “Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi. “E, em” jawab tante Viona prlahan seakan tengah menahan sakit. Aku pun segera memijat mulai dari kepalanya dengan prlahan lahan, kemudian dahinya yang dia bilang mrupakan pusat rasa sakitnya. “Wah, knapa tante Fad!?” tanya Nita yang baru saja pulang. “Tadi si tante hampir jatuh, kepalanya pusing Nit!” jawabku. ” Trlalu capek kali!? ” ujar Nita sambil mlangkah kedapur. “Dah aga mndingan Fad” jelas tante Viona dengan mata terpejam, menikmati pijatan pijatan jariku. Terasa hangat dahinya brsamaan dengan rasa hangat yang menjalari tubuhku. Harum aroma tubuh tante Viona terasa mnusuk kedua lobang hidungku. membuat aku ingin lebih lama lagi memijat dan dekat dengannya.

“Masuk angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing agar niatku tercapai. “Iya kali? “ujarnya pula, seakan mengerti akan arti ucapanku. Membuatku makin brani lebih jauh. “Mau dikerikin ga!?” tanyaku dengan penuh haraf kepadanya. “Memang kamu bisa!?” tante Viona balik brtanya. Membuat hatiku terasa brdebar tak karuan. “Ya bisa… ” jelasku dengan cepat, takut tante Viona brubah fikiran lagi. “Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Viona. membuat hatiku brdebar makin cepat. Dengan prlahanku papah dia mlangkah mnuju kamarnya. Akupun brusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku. Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku.

Setelah berada didalam kamar, kusarankan agar dia istrahat diranjangnya. Tante Viona pun merebahkan tubuhnya seraya bernafas panjang. Seolah olah ada beban berat yang dibawanya. Aku segera brlalu mngambil obat gosok dan coin untuk mengerik tubuh tante Viona. Setelah kudapati smua yang kubutuhkan, aku kembali mnghampiri tante Viona yang tengah menanti. Dengan mmbranikan diri aku memintamya agar dia mlepaskan pakaian yang dipakainya. Dia pun prlahan melepaskan pakaian atau baju yang dipakainya. Shingga tante Viona kini hanya mngenakan bra yang brwarna pink dan clana pendek saja. Ada getaran hangat mnjalari seluruh tubuhku, saat menyaksikan tante Viona mmbuka bajunya. Hingga mmbangunkan kjantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah mngendap dibenakku sejak awal, ketika memprhatikan dia ditaman.
Dengan prasaan yang tak mnentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mengusap …

..usap punggung mulus yang membelakangiku, dengan hati hati sekali. “Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku penuh haraf sambil trus mengusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya lirih. Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli aku tak tau. Yang pasti tanganku segera melepaskan kait tali branya, sehingga membuat branya mlorot mnutupi sbagian payudaranya yang bulat dan berisi. Sperti payudara milik gadis kebanyakan. Setelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, akupun membalurinya dengan minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung tante Viona.

Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yang brusaha ditutupi dengan bra dan kedua telapak tangannya. Tapi hal trsebut membuatku semakin terangsang didorong rasa pnasaran yang tramat. Sementara tante Viona hanya trdiam seraya mmejamkan matanya yang bulat dan indah. ” Pelan pelan ya Fad!? ” pintanya masih dengan mata yang trpejam. Tiba tiba pintu kamar prlahan terbuka, nampak Nita tengah berdiri dimuka pintu. “Tan aku mo kerumah tman dulu ya!?” ujar Nita brpamitan seraya matanya mlirik kearahku. “Iya Nit… ” balas tante Viona tanpa brpaling kearahnya. Kemudian scara prlahan Nita mnutup pintu kembali dan brlalu pergi. Cerita Bugil Desahan Liar si Janda Sombong

Jari tanganku mulai nakal trhadap tugasnya, jariku trkadang nyelinap dibawah ketiaknya brusaha meraih benda yang bulat dan padat brisi yang ditutupinya. Tapi tangan tante Viona terkadang brusaha mnghalanginya, dengan merapatkan pangkal lengannya. “Jari kamu nakal ya Fad!? ” ucap tante Viona stengah berbisik seraya mlirik ke arahku. Membuatku trsipu malu. “Habis ga kuat sich, tan…” jawabku jujur. Tapi tante Viona malah melepaskan branya shingga kini payudaranya nampak polos tanpa plindung lagi. Dan langsung menjadi santapan kedua mataku tanpa brkedip. Langsung membuat hatiku brdebar debar mnyaksikan pemandangan trsebut. “Sekarang bisa kamu plototin pe puas dech!!” ujar tante Viona tak lagi mnutupit buah dadanya dengan kedua telapak tangannya lagi. Jantungku terasa bgitu cepat brdetak dan membuat lemas seluruh prsendianku. Kontolku brlahan tapi pasti mulai berdiri tegak mngikuti dorongan hasratku.

“Memang dah selesai ngeriknya Fad!?” tegur tante Viona mengingatkanku. membuat aku segera melanjutkan perkerjaanku yang tertunda sesaat. Hampir seluruh bagian belakang tubuh tante Viona telah kukerik dan brwarna merah brgaris garis. Hanya bagian bokongnya yang luput dari kerikanku karna trhalang dengan clana pendek serta CD yang dikenakannya. Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin.
Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Kemudian dengan perlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante Viona menundukan kepalanya, sekali sekali trdengar suara dahak dari mulutnya. “Sudah Fad!” printahnya, agar aku mnyudahi pijatanku.

Dengan prasaan malas akupun mnghentikan pijatanku dan segera mmbrsihkan sisa sisa minyak dikedua telapak tanganku. ” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Viona skaligus printah. Akupun branjak pergi kekamar mandi yang memang ada didalam kamar trsebut. Setelah usai mncuci seluruh tanganku hingga bnar bnar bersih. Akupun kembali menghampiri tante Ivon yang tengah telentang diatas ranjang masih dengan keadaan sparuh bugil. Sperti saat aku tinggalkan kekamar mandi. Hingga payudaranya yang bulat dan brisi nampak mmbusung besar didadanya, dengan puting yang brwarna coklat susu. “Ayo Fad, kamu mau mainin ini kan!?”. “Aku juga mau kok!?” ucap tante Viona sambil meremas salah satu payudaranya hingga putingnya mnonjol kearahku. Akupun mndekat mnghampirinya dengan perasaan nafsu. Membuat kontolku kian berdiri dan mngeras kencang dibalik clanaku.

Akupun tak menunggu lebih lama, segeraku remasi payudaranya yang mnantang. Tante Viona brgelinjang saat telapak tanganku mndarat dan meremas kedua payudaranya. ” Achh.., iya Fad trussss ” rintihnya prlahan. Jari jemariku kian liar meremasi seluruh daging bulat yang padat brisi. JariQ juga memainkan putingnya yang mulai mngeras. ” Iya,.., ayo diisep Fad.., aaaayooo “pinta tante Viona dengan nafas taj tratur. Akupun segera menjilati dan mengisapi puting payudaranya. “Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Viona seraya mmegangi kepalaku. Aku semakin brnafsu dengan puting yang kenyal sperti urat dan mnggemaskan.

Sementara tante Viona semakin mendesah tak karuan. Tangan kananku meluncur kearah slangkangan dibawah pusar, trus mnyusup masuk diantara clana dan CD tante Viona. Hingga jari jariku terasa mnyentuh rumput halus yang cukup lebat didalamnya. Tante Viona mmbuka pahanya tak kala jari tlunjukku brusaha masuk kedalam lobang yang ada ditengah bulu bulu halus miliknya. “Aowww…” jerit kecil tante Viona saat tlunjukku brhasil memasuki lobang memeknya. Dia pun mnggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu. Sementara kontolku semakin mngeras hendak kluar dari bahan yang mnutupinya.

Cukup lama jari tlunjukku kluar masuk didalam memek tante Viona, hingga lobang itu mulai terasa basah dan lembab. Sampai akhirnya tangan tante Viona menahan gerakan tanganku dan mminta mnyudahinya. “Aaaachhh.., udaahhh., Faddh.., aaachh” rintih tante Viona. Akupun menarik tanganku dari balik clananya dan mlepaskan putingnya dari mulutku.

“Buka pakaianmu dong, Fad!!” seru tante Viona seraya bangkit dan mlepaskan clana pendek serta CDnya. Shingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah slangkangannya yang baru saja ku obok obok. Akupun mlepaskan smua pakaianku dan bugil sperti dirinya.

Dengan senyum manis kearahku, tante Viona mendekat dan brjongkok tepat didepan slangkanganku. “Aouw, gede banget..!!” seru tante Viona seraya telapak tangannya mraih kontolku yang telah berdiri dan keras. dengan tangan kanan dia mmegang erat batang kontolku, sedangkan telapak kirinya mngelus elus kepalanya. Hingga kepala kontolku terasa brdenyut hangat. Kemudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya seraya matanya mlirik ke arahku. “Agghhh… “aku melenguh tak kala seluruh kontolku tnggelam masuk kedalam mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari seluruh urat ditubuhku. Aku hanya dapat memegangi kepala tante …

…Viona, meremas serta mengusap usap rambutnya yang ikal sebahu. Sementara tante Viona semakin liar, sbentar mengulum dan mngemud seakan dia ingin melumat seluruh kontolku. Trnyata dia lebih buas dari tante Rita. Trkadang dia menjilati dari batang hingga lobang kencing dikepalanya. ” Aaaaaaa… ” erangku menahan rasa nikmat nan tramat. terasa tubuhku melayang jauh tak menentu.

Entah berapa lama tante Viona mengemut, menjilat dan mengulum kontolku. yang jelas hal ini membuat tubuhku bergetar dan hampir kejang. ” Gantian dong tan, aQ juga mau jilatin memekmu! ” rengekku, hampir tak mampu menahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak banyak. Agar tante Viona mandi dengan air maniku.

Tante Viona segera bangkit berdiri meninggalkan kontolku yang masih berdiri tegak. Kemudian aku mminta agar dia duduk dikursi tanpa lengan yang ada. Akupun brjongkok menghadap memeknya yang dihiasi bulu lebatnya. Kedua kaki tante Viona trtumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai mnjarah memek yang tlah mnganga terkuak jari jemariku, hingga nampak jelas lobang memek yang brwarna merah dan lembab. Lidahku pun mulai mnjelajahi dan menjilati lorong itu. “Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh” desah tante Viona saat lidahku brmain menjilati lobang memeknya. “Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya pula sambil meremas dan mnjambaki rambut dikepalaku. Lidahkupun semakin liar dan brusaha masuk lebih dalam lagi. “Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante Viona tak karuan. Lidahku brhenti menjilati dinding lobang memek, kini brpindah pada daging mungil sbesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yang brwarna merah dan basah dengan air mazinya dan air liurku.

“Aughh…..” suara tante Viona sperti tersedak sambil merapatkan kedua pahanya, hingga mnjepit leherku, ketika ku isap itilnya. ” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Viona lirih. ” Udahhh…, Fad…, udddaah Faadd ” rengek tante Viona seraya mndorong kepalaku dengan kakinya yang trkulai lemas dibahuku. Akupun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante Viona dan bangkit berdiri dihadapannya dengan kontol yang masih tegak dan keras. Kemudian mminta tante Viona agar bangkit dari duduknya. Kini aku yang mnggantikan posisinya duduk dikursi.

Tante Viona naik keKeadaan sepi sunyi mn Udara pagi ini terasa sejuk sekali, seakan menyambut baik datangnya hari Minggu ini. Secerah wajah tante Viona yang tengah becengkrama dengn bunga bunga ditaman. Meskipun nampak angkuh, namun kecantikan wajahnya tak dapat disembunyikan.

Aku baru saja selesai mandi dan berniat ngeteh diteras rumah sambil mnghirup udara pagi yang segar. Akan tetapi mataku mlihat tante Viona tengah asyik menikmati keindahhan bunga ditaman depan rumah. Dengan gaya ala petani bunga Cibodas, tante Viona nampak srius memperhatikan tanaman itu. ” Pagi tan ” sapaku. ” Hmm… ” balasnya tanpa brpaling dari rumpunan bunga. ” Mau aku buatin minum nda tan!? ” tanyaku lagi stengah mnawarkan jasa. ” Nda usah!! ” jawabnya juga seraya membelakangiku. Aku tak mlihat tante Rita, Hendri ataupun Nita pagi ini. ” Ach, pada lari pagi kali? ” fikirku dalam hati.

Aku kembali memperhatikan tante Viona yang membelakangiku. Mulai dari betisnya yang putih mulus meskipun nampak kurus, pahanya yang lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun trbalut clana pendek, namun trlihat jelas lekukannya. ” Coba dia bisa aku tiduri sperti tante Rita ya? ” gumanku dalam hati. Belum habis lamunanku,tiba tiba kulihat tubuh tante Viona trhuyung lemah ingin trsungkur. Dengan cepat aku mloncat dan mmegangi tubuhnya yang nyaris trsungkur itu, mninggalkan sisa lamunan cabulku.

Kurangkul tubuhnya yang mulus dan trlihat lemas sekali. “Ga papa kan tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, seraya memapah tubuh tante Viona. “kepalaku terasa pusing Fad” jawab tante Viona lemah. “Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah. “Akhirnya aku bisa mrangkulmu Vone” ucapku dalam hati. Ada sjuta kebahagian dihatiku karna mampu mrangkul tubuh si angkuh trsebut.

Setelah berada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Viona disofa ruang tamu. Dengan mnarik nafas tante Viona duduk dan bersandar pada sandaran sofa. Setelah itu aku melangkah mninggalkannya sendiri. Tak berapa lama aku kembali dengan sgelas air hangat dan mnghampiri tante Viona yang tengah brsandar disandaran sofa. “Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku sambil mnyerahkan gelas brisi air hangat yang kubawa. Tante Viona pun mminum air hngt yang kuberikan. “Makasih ya Fad” ucapnya lemah sambil mletakan gelas dimeja yang ada didepannya.

“kepalanya masih pusing ga tan!?” tanyaku. Tante Viona hanya menganggukan kepalanya. “Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi. “E, em” jawab tante Viona prlahan seakan tengah menahan sakit. Aku pun segera memijat mulai dari kepalanya dengan prlahan lahan, kemudian dahinya yang dia bilang mrupakan pusat rasa sakitnya. “Wah, knapa tante Fad!?” tanya Nita yang baru saja pulang. “Tadi si tante hampir jatuh, kepalanya pusing Nit!” jawabku. ” Trlalu capek kali!? ” ujar Nita sambil mlangkah kedapur. “Dah aga mndingan Fad” jelas tante Viona dengan mata terpejam, menikmati pijatan pijatan jariku. Terasa hangat dahinya brsamaan dengan rasa hangat yang menjalari tubuhku. Harum aroma tubuh tante Viona terasa mnusuk kedua lobang hidungku. membuat aku ingin lebih lama lagi memijat dan dekat dengannya.

“Masuk angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing agar niatku tercapai. “Iya kali? “ujarnya pula, seakan mengerti akan arti ucapanku. Membuatku makin brani lebih jauh. “Mau dikerikin ga!?” tanyaku dengan penuh haraf kepadanya. “Memang kamu bisa!?” tante Viona balik brtanya. Membuat hatiku terasa brdebar tak karuan. “Ya bisa… ” jelasku dengan cepat, takut tante Viona brubah fikiran lagi. “Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Viona. membuat hatiku brdebar makin cepat. Dengan prlahanku papah dia mlangkah mnuju kamarnya. Akupun brusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku. Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku.

Setelah berada didalam kamar, kusarankan agar dia istrahat diranjangnya. Tante Viona pun merebahkan tubuhnya seraya bernafas panjang. Seolah olah ada beban berat yang dibawanya. Aku segera brlalu mngambil obat gosok dan coin untuk mengerik tubuh tante Viona. Setelah kudapati smua yang kubutuhkan, aku kembali mnghampiri tante Viona yang tengah menanti. Dengan mmbranikan diri aku memintamya agar dia mlepaskan pakaian yang dipakainya. Dia pun prlahan melepaskan pakaian atau baju yang dipakainya. Shingga tante Viona kini hanya mngenakan bra yang brwarna pink dan clana pendek saja. Ada getaran hangat mnjalari seluruh tubuhku, saat menyaksikan tante Viona mmbuka bajunya. Hingga mmbangunkan kjantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah mngendap dibenakku sejak awal, ketika memprhatikan dia ditaman.
Dengan prasaan yang tak mnentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mengusap …

..usap punggung mulus yang membelakangiku, dengan hati hati sekali. “Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku penuh haraf sambil trus mengusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya lirih. Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli aku tak tau. Yang pasti tanganku segera melepaskan kait tali branya, sehingga membuat branya mlorot mnutupi sbagian payudaranya yang bulat dan berisi. Sperti payudara milik gadis kebanyakan. Setelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, akupun membalurinya dengan minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung tante Viona.

Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yang brusaha ditutupi dengan bra dan kedua telapak tangannya. Tapi hal trsebut membuatku semakin terangsang didorong rasa pnasaran yang tramat. Sementara tante Viona hanya trdiam seraya mmejamkan matanya yang bulat dan indah. ” Pelan pelan ya Fad!? ” pintanya masih dengan mata yang trpejam. Tiba tiba pintu kamar prlahan terbuka, nampak Nita tengah berdiri dimuka pintu. “Tan aku mo kerumah tman dulu ya!?” ujar Nita brpamitan seraya matanya mlirik kearahku. “Iya Nit… ” balas tante Viona tanpa brpaling kearahnya. Kemudian scara prlahan Nita mnutup pintu kembali dan brlalu pergi. Cerita Bugil Desahan Liar si Janda Sombong

Jari tanganku mulai nakal trhadap tugasnya, jariku trkadang nyelinap dibawah ketiaknya brusaha meraih benda yang bulat dan padat brisi yang ditutupinya. Tapi tangan tante Viona terkadang brusaha mnghalanginya, dengan merapatkan pangkal lengannya. “Jari kamu nakal ya Fad!? ” ucap tante Viona stengah berbisik seraya mlirik ke arahku. Membuatku trsipu malu. “Habis ga kuat sich, tan…” jawabku jujur. Tapi tante Viona malah melepaskan branya shingga kini payudaranya nampak polos tanpa plindung lagi. Dan langsung menjadi santapan kedua mataku tanpa brkedip. Langsung membuat hatiku brdebar debar mnyaksikan pemandangan trsebut. “Sekarang bisa kamu plototin pe puas dech!!” ujar tante Viona tak lagi mnutupit buah dadanya dengan kedua telapak tangannya lagi. Jantungku terasa bgitu cepat brdetak dan membuat lemas seluruh prsendianku. Kontolku brlahan tapi pasti mulai berdiri tegak mngikuti dorongan hasratku.

“Memang dah selesai ngeriknya Fad!?” tegur tante Viona mengingatkanku. membuat aku segera melanjutkan perkerjaanku yang tertunda sesaat. Hampir seluruh bagian belakang tubuh tante Viona telah kukerik dan brwarna merah brgaris garis. Hanya bagian bokongnya yang luput dari kerikanku karna trhalang dengan clana pendek serta CD yang dikenakannya. Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin.
Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Kemudian dengan perlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante Viona menundukan kepalanya, sekali sekali trdengar suara dahak dari mulutnya. “Sudah Fad!” printahnya, agar aku mnyudahi pijatanku.

Dengan prasaan malas akupun mnghentikan pijatanku dan segera mmbrsihkan sisa sisa minyak dikedua telapak tanganku. ” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Viona skaligus printah. Akupun branjak pergi kekamar mandi yang memang ada didalam kamar trsebut. Setelah usai mncuci seluruh tanganku hingga bnar bnar bersih. Akupun kembali menghampiri tante Ivon yang tengah telentang diatas ranjang masih dengan keadaan sparuh bugil. Sperti saat aku tinggalkan kekamar mandi. Hingga payudaranya yang bulat dan brisi nampak mmbusung besar didadanya, dengan puting yang brwarna coklat susu. “Ayo Fad, kamu mau mainin ini kan!?”. “Aku juga mau kok!?” ucap tante Viona sambil meremas salah satu payudaranya hingga putingnya mnonjol kearahku. Akupun mndekat mnghampirinya dengan perasaan nafsu. Membuat kontolku kian berdiri dan mngeras kencang dibalik clanaku.

Akupun tak menunggu lebih lama, segeraku remasi payudaranya yang mnantang. Tante Viona brgelinjang saat telapak tanganku mndarat dan meremas kedua payudaranya. ” Achh.., iya Fad trussss ” rintihnya prlahan. Jari jemariku kian liar meremasi seluruh daging bulat yang padat brisi. JariQ juga memainkan putingnya yang mulai mngeras. ” Iya,.., ayo diisep Fad.., aaaayooo “pinta tante Viona dengan nafas taj tratur. Akupun segera menjilati dan mengisapi puting payudaranya. “Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Viona seraya mmegangi kepalaku. Aku semakin brnafsu dengan puting yang kenyal sperti urat dan mnggemaskan.

Sementara tante Viona semakin mendesah tak karuan. Tangan kananku meluncur kearah slangkangan dibawah pusar, trus mnyusup masuk diantara clana dan CD tante Viona. Hingga jari jariku terasa mnyentuh rumput halus yang cukup lebat didalamnya. Tante Viona mmbuka pahanya tak kala jari tlunjukku brusaha masuk kedalam lobang yang ada ditengah bulu bulu halus miliknya. “Aowww…” jerit kecil tante Viona saat tlunjukku brhasil memasuki lobang memeknya. Dia pun mnggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu. Sementara kontolku semakin mngeras hendak kluar dari bahan yang mnutupinya.

Cukup lama jari tlunjukku kluar masuk didalam memek tante Viona, hingga lobang itu mulai terasa basah dan lembab. Sampai akhirnya tangan tante Viona menahan gerakan tanganku dan mminta mnyudahinya. “Aaaachhh.., udaahhh., Faddh.., aaachh” rintih tante Viona. Akupun menarik tanganku dari balik clananya dan mlepaskan putingnya dari mulutku.

“Buka pakaianmu dong, Fad!!” seru tante Viona seraya bangkit dan mlepaskan clana pendek serta CDnya. Shingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah slangkangannya yang baru saja ku obok obok. Akupun mlepaskan smua pakaianku dan bugil sperti dirinya.

Dengan senyum manis kearahku, tante Viona mendekat dan brjongkok tepat didepan slangkanganku. “Aouw, gede banget..!!” seru tante Viona seraya telapak tangannya mraih kontolku yang telah berdiri dan keras. dengan tangan kanan dia mmegang erat batang kontolku, sedangkan telapak kirinya mngelus elus kepalanya. Hingga kepala kontolku terasa brdenyut hangat. Kemudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya seraya matanya mlirik ke arahku. “Agghhh… “aku melenguh tak kala seluruh kontolku tnggelam masuk kedalam mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari seluruh urat ditubuhku. Aku hanya dapat memegangi kepala tante …

…Viona, meremas serta mengusap usap rambutnya yang ikal sebahu. Sementara tante Viona semakin liar, sbentar mengulum dan mngemud seakan dia ingin melumat seluruh kontolku. Trnyata dia lebih buas dari tante Rita. Trkadang dia menjilati dari batang hingga lobang kencing dikepalanya. ” Aaaaaaa… ” erangku menahan rasa nikmat nan tramat. terasa tubuhku melayang jauh tak menentu.

Entah berapa lama tante Viona mengemut, menjilat dan mengulum kontolku. yang jelas hal ini membuat tubuhku bergetar dan hampir kejang. ” Gantian dong tan, aQ juga mau jilatin memekmu! ” rengekku, hampir tak mampu menahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak banyak. Agar tante Viona mandi dengan air maniku.

Tante Viona segera bangkit berdiri meninggalkan kontolku yang masih berdiri tegak. Kemudian aku mminta agar dia duduk dikursi tanpa lengan yang ada. Akupun brjongkok menghadap memeknya yang dihiasi bulu lebatnya. Kedua kaki tante Viona trtumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai mnjarah memek yang tlah mnganga terkuak jari jemariku, hingga nampak jelas lobang memek yang brwarna merah dan lembab. Lidahku pun mulai mnjelajahi dan menjilati lorong itu. “Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh” desah tante Viona saat lidahku brmain menjilati lobang memeknya. “Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya pula sambil meremas dan mnjambaki rambut dikepalaku. Lidahkupun semakin liar dan brusaha masuk lebih dalam lagi. “Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante Viona tak karuan. Lidahku brhenti menjilati dinding lobang memek, kini brpindah pada daging mungil sbesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yang brwarna merah dan basah dengan air mazinya dan air liurku.

“Aughh…..” suara tante Viona sperti tersedak sambil merapatkan kedua pahanya, hingga mnjepit leherku, ketika ku isap itilnya. ” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Viona lirih. ” Udahhh…, Fad…, udddaah Faadd ” rengek tante Viona seraya mndorong kepalaku dengan kakinya yang trkulai lemas dibahuku. Akupun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante Viona dan bangkit berdiri dihadapannya dengan kontol yang masih tegak dan keras. Kemudian mminta tante Viona agar bangkit dari duduknya. Kini aku yang mnggantikan posisinya duduk dikursi.

Tante Viona naik keatas pahaku dan tubuhnya menghadap kearahku, hingga tubuh kami saling berhimpitan. Kemudian tante Viona mmbimbing kontolku masuk kelobang memeknya dngan jarinya. ” Aagghhsss.. ” rintih kecil tante Viona ketika kontolku masuk menusuk memeknya. Tak lama kemudian bokongnya mulai turun naik, mngesek gesek kontolku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dengan mmegangi pinggulnya mmbantu bokongnya turun naik. ” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fadd “. ” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante Viona tak karuan jika tubuhnya turun mnenggelamkan kontolku dimemeknya. ” Aauwww, aku ga tahan ne Fadd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Viona seraya mnggerakan bokongnya dengan cepat.

Akupun mmbalas reaksinya, dengan melumat lagi payudaranya .”Aaaaaawhhh……..”erang tante Viona sambil mnekan bokongnya lebih rapat dengan slangkanganku. Akupun mengejang menahan tekanan bokong tante Viona. “Aaaachhhh…….” akhirnya aku tak mampu lagi mmbendung cairan kental dari dalam kontolku. Kamipun saling brpelukan dengan erat beberapa saat dengan brcampur peluh masing masing.

Setelah cukup lama kami berpelukan, kamipun bangkit dengan malas, enggan branjak dari suasana yang ada. Setelah itu kamipun mandi membrsihkan tubuh kami masing masing yang basah dengan peluh syurga. Akhirnya aku bisa menidurimu dan menaklukan keangkuhanmu tante Viona Gienarsih.tas pahaku dan tubuhnya menghadap kearahku, hingga tubuh kami saling berhimpitan. Kemudian tante Viona mmbimbing kontolku masuk kelobang memeknya dngan jarinya. ” Aagghhsss.. ” rintih kecil tante Viona ketika kontolku masuk menusuk memeknya. Tak lama kemudian bokongnya mulai turun naik, mngesek gesek kontolku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dengan mmegangi pinggulnya mmbantu bokongnya turun naik. ” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fadd “. ” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante Viona tak karuan jika tubuhnya turun mnenggelamkan kontolku dimemeknya. ” Aauwww, aku ga tahan ne Fadd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Viona seraya mnggerakan bokongnya dengan cepat.

Akupun mmbalas reaksinya, dengan melumat lagi payudaranya .”Aaaaaawhhh……..”erang tante Viona sambil mnekan bokongnya lebih rapat dengan slangkanganku. Akupun mengejang menahan tekanan bokong tante Viona. “Aaaachhhh…….” akhirnya aku tak mampu lagi mmbendung cairan kental dari dalam kontolku. Kamipun saling brpelukan dengan erat beberapa saat dengan brcampur peluh masing masing.
Setelah cukup lama kami brpelukan, kamipun bangkit dengan malas, enggan branjak dari suasana yang ada. Setelah itu kamipun mandi mmbrsihkan tubuh kami masing masing yang basah dengan peluh syurga. Akhirnya aku bisa menidurimu dan menaklukan keangkuhanmu Tante Viona Gienarsih.

Desahan Liar Ngentot Tante Janda Muda Angkuh by Critahot.netCerita Sex, Cerita ML Bergambar, Dewasa Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngewe, Cerita Ngentot, Cerita Bokep Terbaru.

Pencarian terkait:

  • komik sex hot diperkosa tukang bangunan
certifications itil
Desahan Liar Ngentot Tante Janda Muda Angkuh
by: | 5